Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Monday, January 15, 2018

GIOMAR, SAYA DAN SUAMI MELALUI PROSES MENYAPIH

Alhamdulillah, salah satu wish list saya di tahun 2018 ini sudah terlaksana, yaitu menyapih Giomar.

Sejujurnya, saya tidak terlalu sering berafirmasi kepada Giomar tentang: “Gio sebentar lagi mau dua tahun, sudah besar, nenennya berhenti yaaaa..”
Beberapa kali memang saya selipkan, namun tidak intens.

Di lubuk hati yang paling dalam, saya punya keyakinan kalau menyapih Giomar tidak akan sulit. (PD banget nih si Ibu)

Kenapa?

Karena saya ingat ketika Giomar baru lahir, saya baru bisa menyusui langsung itu di hari ke-4. Singkat cerita, saya tidak menemukan kesulitan yang berarti ketika hendak menyusuinya pertama kali. Kalau kata Ibu Bidan, Giomar langsung NYAPLOK! Saya tidak tahu ini ada kaitannya atau tidak, tapi mengingat momen pertama kali menyusui, meyakinkan saya bahwa proses menyapih pun tidak akan sulit.

Dan ternyata benar!

Semua dimulai ketika Giomar masuk daycare, Agustus 2017. Sejak Giomar masuk daycare, otomatis pagi sampai sore, Giomar tidak menyusu. Saya bekalkan susu UHT beserta botol susu jika Giomar mau. Selama di daycare, saya beberapa kali bertanya kepada pembimbingnya mengenai apakah Giomar mencari-cari nenen kalau mau tidur siang? Ternyata tidak. Dia bisa tidur siang sendiri. Kalaupun mau ditemani, hanya berupa tepuk-tepuk pantat atau usap-usap punggung. Waaaah, keren!

Beberapa bulan berlalu, saya dapat laporan bahwa Giomar tidak pernah menggunakan botol susunya, dia lebih menikmati minum susu UHT menggunakan sedotan. Lagi-lagi keren! Senang sekali saya mendengarnya! Semenjak mendapat laporan itu, saya tidak membekalinya botol susu. Saya tarik kesimpulan memang Giomar tidak menikmati minum susu di botol sebelum tidur. Ini merupakan poin penting untuk memulai menyapih. Mengapa? Karena saya tidak mau menyapih dua kali. Menyapih nenen, lalu menyapih botol susu juga sebelum tidur.

Akhir tahun 2017, tanpa ada rencana, Giomar diajak oleh sepupunya untuk menginap. Ini pertama kalinya Giomar menginap tanpa saya dan suami. Begitu juga dengan saya, ini merupakan momen pertama saya sejak memiliki Giomar, tidur tanpa Giomar di sebelah saya. Baper? Jujur, tidak sama sekali. Karena sudah terlalu kangen tidur tanpa bangun tengah malam untuk menyusui.

Sebelum tidur, saya dan suami sudah berjaga-jaga (takutnya Giomar minta pulang) dengan memaksimalkan suara dering HP. Blaaaaassss, saya bangun pagi-pagi, dan mendapati tidak ada kabar apapun di HP. Berarti aman! Wah, lagi-lagi saya senang! Titik terang untuk menyapih semakin terlihat!

Tanpa disadari, 8 Januari, 9 Januari 2018, selama dua hari tersebut, Giomar tidak minta nenen sama sekali. Blaaasss, saya berpikir, mungkin ini saatnya! Giomar kasih kode ke saya dan suami untuk lanjut menyapih. Saya bilang ke suami: “Yah, Giomar udah dua hari ngga nenen, lanjut nyapih aja ya?” Suami dengan mantap: “Lanjut lah, Bu!” Kenapa saya tanya suami, karena dengar kanan-kiri, kalau lagi proses menyapih, biasanya anak mencari kenyamanan lain untuk tidur, seperti digendong. Jadi saya butuh kesiapan suami jikalau hal itu terjadi.

Hari ini, 16 Januari 2018, delapan hari sudah Giomar, saya dan suami melalui proses menyapih. Kami sama-sama menyapih dan disapih. Tidak ada kesulitan yang berarti.

Saya tidak melakukan hal-hal seperti memberi puting saya yang pahit-pahit, balsam ataupun coret lipstik (berkesan sedang sakit). Oiya, sebelumya saya pernah loh iseng coret sekitar nenen saya dengan lipstick, reaksi Giomar? NYENGIR doang terus tetep nenen. Hahaha! Tidak dipungkiri memang terbesit kalau proses menyapihnya akan sulit, pasti hal-hal di atas akan saya coba sih.

Saya pun tidak pisah kamar. Giomar tetap tidur di sebelah saya. Giomar sempat menangis meminta nenen, menarik baju saya, namun kami nikmati proses itu. Tangisannya cukup membuat saya deg-degan dan puting saya cenat-cenut. Rasanya ingin memberikannya nenen, tapi mengingat sudah terlewatnya beberapa hari, membuat saya bertahan untuk tidak memberikanya nenen.

Alhamdulillah, kewajiban saya untuk memberikannya ASI sudah saya laksanakan dengan penuh rasa senang, ikhlas dan bangga. Begitupun dengan Giomar, dengan dia “tiba-tiba lupa nenen”, merupakan tanda bahwa Giomar sudah terpenuhi hak nya untuk mendapatkan ASI yang telah membuatnya kenyang di enam bulan pertama hidupnya dan kemudian membuatnya nyaman sampai diumurnya dua puluh tiga bulan ini.


Dua minggu lagi, Bosque Giomar akan berulang tahun yang ke-2, InsyaAllah ini awal yang baik untuk lanjut ke proses selanjutnya, yaitu: TOILET TRAINING! (brb, siapin mental dulu yaaaah!)

Saturday, February 4, 2017

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-1, GIOMAR ADIASTA ASLAH....

Terima kasih, Giomar....


Karena sudah berhasil melawan jutaan sperma lain, menjadi juara dan singgah di dalam rahim Ibu tepat selama 40 minggu;

Karena tidak membuat Ibu merasakan "morning sickness" berkepanjangan pada awal kehamilan;
Karena sudah baik budi selama di dalam kandungan Ibu;
Karena sudah berjuang bersama Ibu & Ayah selama hampir 30 jam dan tetap bertahan untuk keluar melalu jalur yang Allah, Ibu, Ayah, dan Dokter Bambang inginkan;
_________


Karena tetap bertahan hingga hari ini untuk memanfaatkan ASI Ibu dengan sebaik-baiknya;

Karena sejak awal MP-ASI hingga hari ini, makanmu selalu lahap dan setia dengan sabar duduk di high chair;
Karena kamu bersedia mengikuti pola Ayah & Ibu yang terbiasa dengan tidur cepat;
Karena dengan hanya usap-usap punggung dan tepuk pantat, kamu bisa terlelap;
Karena tumbuh kembangmu yang sesuai dengan umurmu;


Terima kasih atas kebahagiaan yang kamu berikan kepada Ibu, Ayah dan orang-orang tersayang di sekitarmu;

___________


Mohon maaf, Giomar...



Apabila kami khususnya Ibu kurang sabar dalam menanggapi celotehan dan keingintahuanmu;

Apabila Ibu suka keasyikan sendiri dengan HP/TV/Komputer;
Apabila Ibu beberapa kali membuatmu capek hanya karena Ibu bosan (re: ke mall berjam-jam)
Apabila Ibu beberapa kali membuatmu begadang;
Apabila Ibu bentak/teriak marah kepadamu hanya karena hal sepele;


Semoga diulang tahunmu yang pertama ini, Insya Allah Giomar senantiasa diberi kebahagiaan,, kesehatan, tumbuh kembang sempurna, baik budi dan diberkahi selalu oleh Allah SWT.



Semoga Ayah & Ibu diberikan kerendahan hati, dijauhkan dari kesombongan dan kecurigaan dalam proses belajar bersama Giomar.



Rabbi Habli Minas Sholihin....

Amin YRA.....

Wednesday, June 22, 2016

"Katanya: Selamat tinggal tidur 8 jam!"

Semenjak Giomar lahir, sudah dipastikan lah ya tidur saya dan suami menjadi berkurang.

Kurang tidur sudah dimulai sejak kandungan masuk 38 minggu, karena perut sudah semakin besar dan mulai was-was kalau ada yang aneh dengan si perut.

Begadang juga dilanjutkan ketika proses lahiran. Kalau ini sih totally ngga tidur. Dimulai dari pembukaan 4, jam 8 malam hingga keesokan harinya ketika Giomar lahir, jam 10 pagi.

Lanjut proses begadang ketika Giomar lahir. Giomar mengalami masalah pernapasan karena terlalu lama di jalan lahir. Jadi dia digolongkan ke dalam bayi sakit dan dipantau selama 24 jam oleh suster di ruang bayi sakit, lantai 1. Sedangkan saya di lantai 2. Untuk memberikan ASI, saya hanya diperbolehkan memberikan ASIP melalu selang yang disediakan. Jadi, saya harus pumping tiga jam sekali. Pokoknya harus kerjasama bareng suami banget. Saya pakai alarm untuk pumping, kemudian suami yang turun ke ruangan bayi sakit dan mencuci botol dan alat pumping. Begitu terus secara berulang selama Giomar di ruang bayi sakit dan disinar.

Sesampainya di rumah. Begadang masih terus berlanjut karena Giomar menyusu tiga jam sekali disertai ganti popok. Apalagi ketika Giomar mengalami growth spurt selama tiga hari. Selalu bangun dari jam 1 sampai jam 4 pagi. Fuuuh, teler banget! Sampe nangis karena bingung dan ngantuk. 

Hingga pada akhirnya Giomar kami rutinkan untuk mandi sore, sebelumnya mandi hanya pagi saja. Tapi atas saran Tantenya Billah dan teman-teman, akhirnya Giomar memulai mandi sore ketika umurnya menginjak dua atau tiga minggu.
Selain itu, kami bawa Giomar pijat di Oma Lies. Kami membawanya ketika Giomar berumur satu bulan. Blaaaassss, setelah pijat, tidur Giomar pun semakin membaik. Membaik dalam arti dia sudah mengikuti pola tidur Ayah dan Ibu nya, namun disela-sela tidur malam, tetap ada proses menyusui, yaitu jam 12 malam, 3 pagi dan 6 pagi.

Saat ini, Giomar menginjak umur empat bulan. Tidurnya sudah bagussss banget! Jam 8 biasanya sudah memasuki waktunya Giomar tidur. Jadi, lampu kamar sudah mati dan memakai lampu tidur. Kamipun membiasakan Giomar tidur pakai baju tidur. Sehingga Giomar merasa nyaman dan hangat. Kalau sekarang, proses menyusu hanya dua kali, biasanya jam 3 pagi dan jam 5 atau jam 6 pagi. Jadi, jatah tidur 8 jam saya pun berangsur kembali.

Jadi, kalau ada yang nyinyir soal tidur, tenang saja! Badai pasti berlalu!! Dan perlu diingat, kebiasaan tidur anak, benar-benar berkiblat dari orang tuanya.

Monday, June 20, 2016

Giomar Goes to Pontianak

Beberapa minggu lalu, randomly Datuk nya Giomar ngasih ide untuk bersilaturahmi ke Pontianak sekalian nyekar ke makam Mbahyut sebelum puasa. Setelah negosiasi tanggal, akhirnya diputuskan berangkat tanggal 4 Juni 2016 dan pulang tanggal 7 Juni 2016. Jadi kami bisa menikmati puasa pertama di Pontianak.

Meskipun ada sih yang bilang katanya gampang-gampang aja bawa bayi traveling (Zzz!), tapi tetap saja, saya dan suami mempersiapkan strategi dan perlengkapan untuk Giomar, mengingat ini pertama kalinya Giomar naik pesawat diumurnya yang baru menginjak empat bulan.

1. Kami memilih flight pagi, yaitu pukul 05.20 pagi untuk keberangkatan dan 06.15 untuk kepulangan. Mengapa? Untuk Giomar sendiri, jam 05.20/06.15 masih merupakan jam tidurnya. Jadi, kami berharap Giomar masih tidur selama perjalanan di pesawat.

Fakta:
Memilih flight pada jam tidurnya memang pilihan tepat kok! Dan yang perlu diingat juga adalah perjalanan menuju bandara. First flight menjadi lebih kondusif karena mood Giomar bagus selama perjalanan Bogor - Jakarta. Ngga macet! Ketika perjalanan Jakarta - Pontianak, Giomar tidur selama perjalanan. Ketika pulang, Pontianak - Jakarta, Giomar tidur tapi ditengah perjalanan, Giomar terbangun. Tapi tidak lama kemudian dia tidur lagi.


2. Sewa earmuff dan baby's carrier. Baca blog beberapa orang, katanya kedua items ini penting. Kebetulan kami ngga punya, jadi sewa saja di ecomama.com

Fakta:
Earmuff is a must! Apalagi kondisinya jam tidur, otomatis bukan jamnya bayi nyusu. Emang keliatannya ribet ya. Tapi Giomar anteng-anteng aja pakai earmuff. Oiya, pasang earmuff sebelum masuk pesawat ya. Kalau udah di pesawat ribet. Ketika keberangkatan, saya memakaikannya di pesawat. Agak ribet soalnya Giomar excited liat pesawat. Nah, belajar dari pengalaman pas keberangkatan, ketika pulang, saya sudah pakaikan earmuff ketika di ruang tunggu.


Baby's carrier ngga kepake sama sekali. Pokoknya kami tidak menemukan kesempatan untuk menggunakan baby's carrier. Mungkin karena baru duduk di mobil sebentar, kemudian ngga lama sudah sampai lokasi.


3. Tetap membawa stroller meskipun terdengar ribet.



Fakta:

Big thanks to stroller!
Mengingat Giomar lehernya belum tegak banget dan lebih nyaman bila tiduran atau setengah duduk, jadinya kami memutuskan untuk membawa stroller. Selain memikirkan kenyamanan bayi, kenyamanan orang tua juga  harus dipikirkan lho. Ketika di bandara, stroller kami wrapping lalu masuk bagasi. Sesampainya di Bandara Supadio, stroller langsung kami buka, sehingga Giomar bisa langsung rebahan dan kami bisa dengan tenang menunggu koper. Diberbagai tempat kuliner, Giomar selalu pakai stroller, jadi kami bisa dengan santai makan. dan tidak kerepotan untuk menggendong. Emang lebih effort karena harus buka tutup si stroller, tapi worth it karena dibalas oleh makan dengan tenang. Ada saat di mana Giomar mau digendong, tapi setelah tenang/ketiduran, dengan mudahnya kami bisa taro dia di stroller lagi.



4. Jangan lupa membawa Baby Balsam, Young Living Essentials Oil + VCO, Nosefrida dan Obat penurun panas. Bukan berharap Giomar masuk angin atau kena batuk pilek ya, tapi ketiga items ini wajib hukumnya untuk dibawa ketika travelling. Apalagi Giomar perginya ke Pontianak dimana cuacanya panaaaasss.



Fakta:

Benar saja, hari ke-2 Giomar di Pontianak, sepulang dari menyusuri Sungai Kapuas tengah hari bolong, setelah mandi sore, biasanya Giomar tidur, tapi kali ini dia malah menangis. Sepertinya sudah mengantuk tapi ngga enak badan. Selama setengah jam Giomar rewel, akhirnya saya balur badannya pakai baby balsam (Giomar alergi pakai minyak telon, jadi sudah tidak pakai minyak telon lagi), kemudian kakinya saya pijat menggunakan YL RC dan VCO. Saya tinggal sebentar cuci tangan, eh, langsung pules. Nosefrida sempet dipakai kalau malem kedengeran suara nafasnya grok grok, biasanya mampet karena AC terlalu dingin. Untuk obat penurun panas, Alhamdulillah tidak dipakai.


Intinya bayi dan orangtua harus sama-sama nyaman ya!

Saturday, May 7, 2016

Giomar Adiasta Aslah

Setelah menanti tepat selama 40 minggu, Alhamdulillah, akhirnya saya dapat melahirkan bayi laki-laki, sehat, yang diberi nama "GIOMAR ADIASTA ASLAH" dengan proses persalinan normal.

Proses menuju persalinan pun dimulai pada:

Rabu, 3 Februari 2016; 16.00 WIB
Kami kontrol ke dr. Bambang Mulyawan di RS. BMC seperti biasa. Setelah dicek, ternyata sudah ada pembukaan. Pembukaan 1 - longgar alias pembukaan 1 cm plus agak longgar (tapi belum sampai 2 cm).  Pada kontrol ini pun, saya diinformasika bahwa saya memiliki tipe "perut gantung" dimana rahim saya agak kebelakang sehingga sudah dapat dipastikan bahwa proses pembukaan akan lama. Lalu saya disuruh pulang terlebih dahulu oleh dr. Bambang. Beliau bilang, anything can be happened in anytime. Bisa besok Subuh atau bahkan dua hari lagi... Lalu kami memutuskan pulang saja. Padahal kami sudah membawa perlengkapan sih, tapi atas saran dr. Bambang, kami memutuskan untuk pulang saja.

Kami belum menginformasikan keluarga bahwa saya sudah berada dipembukaan 1. Kami ngga mau heboh-heboh dulu sampai pembukaan meningkat. Sesampainya di rumah, kontraksi mulai lebih sering terjadi dengan hitungan per 20 - 30 menit sekali. Perut kencang seperti papan namun tidak diiringin mules. Hanya perut kencang saja. 

Kamis, 4 Februari 2016; 03.00 WIB

Dini hari terasa berbeda karena saya tumben-tumbenan tidak buang air kecil. Tapi entah kenapa, saya ingin ke kamar mandi. Lalu saya ke kamar mandi dan sesampainya di depan pintu kamar mandi, saya membuka celana dalam dan mendapati flek/lendir seperti ubur-ubur yang cukup banyak disertai serat-serat darah. Sontak saya kaget, kemudian secara perlahan saya panggil Billah: "Yah...." Pelan sekali... Saya tidak ingin membuat dia panik atau kaget. Lalu Billah langsung membalas sautan dan melihat kondisi saya. Dia cuma nanya: "Apaan tuh!?". Kemudian dia menelepon dr. Bambang, namun tidak diangkat. Tapi tidak lama kemudian, dr. Bambang sms: "Kenapa, Bu?", akhirnya kami menjelaskan apa yang terjadi lewat SMS. Dr. Bambang menyarankan untuk segera ke IGD RS. Bogor Medical Center (BMC) untuk diobservasi. Beliau menyuruh kami tenang dan mengingatkan bahwa proses masih panjang.

Ok, dengan tenang kami pun siap-siap kemudian pamitan dengan Ayah. Huhu, tangan saya sudah basah keringetan...! Deg-degan!

Sesampainya di RS, sekitar jam 04.00 WIB, saya menuju IGD dan cek tensi, so far tensi selalu bagus, antara sekitaran 110/70. Setelah dicek, saya dipindahkan ke ruang tindakan untuk di CTG. Dengan CTG, kita bisa tahu interval kontraksi, gerakan bayi dan denyut jantung bayi. Dalam kurun 20 menit, kontraksinya stabil 5-10 menit sekali, gerakan dan denyut jangtungnya pun bagus. Sementara itu, Billah mengurus administrasi dll.

Setelah CTG selesai, bidan yang berjaga pagi itu, mengecek kembali pembukaan, ternyata masih pembukaan dua. Lalu saya di "bersihkan" oleh bidan. Dimulai dari cukur daerah kemaluan dan mengeluarkan kotoran dari anus. Lalu kami dipindahkan ke ruang observasi sambil menunggu perkembangan pembukaan.

Kamis, 4 Februari 2016; 11.00 WIB

Tujuh jam pun berlalu....
Kontraksi yang saya rasakan tidak ada perkembangan. Bu Bidan cek dalam dan tetap pada pembukaan dua. Setelah mendapatkan konfirmasi dari dr. Bambang, akhirnya diputuskan untuk diinduksi. Saya diinduksi menggunakan obat. Obat tersebut dimasukkan ke dalam vagina. Obatnya tablet biasa, namun dibagi menjadi dua. Obat pertama ditunggu selama 6 jam, apabila tidak ada perkembangan, sisa obat dimasukkan kembali ke dalam vagina. Sampai pada obat kedua, tingkat pembukaan hanya sampai di pembukaan 4.

Oiya, selama pembukaan 1-4, saya dan suami saving energy dengan makan dan tidur. Kalau suami lebih lack of sleep ketimbang saya sih. Karena tidurnya di kursi.

Jum'at, 5 Februari 2016; 01.00 WIB

Akhirnya saya diinduksi kembali menggunakan infusan. Dan tidak lama kemudian ketuban saya pecah. Cukup banyak. Karena ketuban sudah pecah, maka saya diberi antibiotik untuk memberikan perlindungan bagi bayi.

Masuk pada pembukaan 5, mulesnya sudah mulai konstan dan kontraksinya sudah semakin cepat.
Di RS. BMC, apabila sudah masuk pembukaan 5, maka disarankan untuk "rocking", yaitu menggoyang-goyangkan pinggul selagi kontraksi. Saya dan suami dipindahkan ke ruang tindakan. Saya melakukan rocking pada setiap kontraksi sambil memeluk suami.

Dan benar! Pembukaan jadi semakin cepat.

Jum'at, 5 Februari 2016; 07.00 WIB

Saya memasuki pembukaan 8, dan lagi! Saya disuruh rocking oleh bidan-bidan. Dikarenakan perut gantung saya, bayi agak sulit menuju pintu terakhir. Jadi kalau kata bu bidan, ada tanda-tanda dimana si ibu boleh mengejan. Diantaranya adalah sudah ada tonjolan di perinium dan kepala bayi sudah berada di pintu terkhir (kata bu bidan ada tiga pintu yang harus dilewati oleh bayi). Nah, bayi saya nyangkut di pintu terakhir. Maka dari itu saya disarankan rocking. Setelah rocking, saya rebahan lagi sambil meraung-raung. Ya, meraung-raung. Rauangannya apa: "Bu Bidan mau ngeden!"

Asli, memasuki pembukaan 8, rasanya udah pengen ngeden aja. Curi-curi saya ngeden (padahal ngga boleh karena akan bikin trauma bagi si miss v).

Apa yang dilakukan suami? Dia mengabari keluarga bahwa saya sudah memasuki pembukaan 8. Kemudian menyemangati saya. Dia mempraktekan instruksi bidan: "Tarik, tiup, tarik, tiup!" Ehm, ngeliat mukanya sih beneran ngasih semangat, tapi I've known him for 8 years! Keliatan banget pengen ngetawain istrinya yang lagi teriak-teriak nahan kontraksi. Lalu saya menginstruksikan suami untuk kontak dr. Bambang untuk segera datang. Maklum lagi senewen, pokoknya dokter harus dateng saat itu juga. Padahal aslinya sih masih lama sampe lahiran... 

Tidak lama kemudian, dr. Bambang pun datang, dengan tenangnya beliau memeriksa saya DAN pasien di sebelah yang juga mau melahirkan anak ke-2 atau ke-3, intinya bukan anak ke-1. Saya sampe ngga sadar kalau di sebelah ada pasien yang mau lahiran juga. Kenapa? Soalnya ybs cuma: "Aw, aduh, aw, aduh..." Kaya mau pup aja gitu...

Anyway, setelah dr. Bambang cek, beliau menyarankan untuk menunggu sekitar setengah jam, sontak saya langsung menarik lengan dr. Bambang dan bilang "Ngga mau dok, mau ngeden sekarang aja!" Pokoknya hari itu adalah hari bawel sedunia. Semuanya saya teriakin...

dr. Bambang ke ruang sebelah dan kurang dari 15 menit, bayi tetangga sebelah lahir! Makinlah saya drop. Kok bayi saya ngga lahir-lahir.

Jum'at, 5 Februari 2016; 09.30 WIB

Kali ini semua bidan dan dr. Bambang fokus menangani saya. Saya sudah memasuki pembukaan 10, namun si bayi stuck di pintu terakhir. Akhirnya diputuskan untuk di vakum dengan "sedotan" paling rendah serta dibantu dorong oleh bidan. Ketika kepala bayi sudah keluar di pintu terakhir, AKHIRNYA saya MENGEJAN sebanyak 2x.

Jum'at, 5 Februari 2016; 09.47 WIB

Alhamdulillah, lahirlah putra pertama kami, Giomar Adiasta Aslah pada 05 Februari 2016, pukul 09.47 WIB dengan berat: 3160 gr dan panjang: 51 cm.

Nama Giomar Adiasta merupakan nama pilihan saya dan Aslah merupakan pilihan suami. Makna dari nama tersebut:

Giomar: Terkenal
Adiasta: Pemimpin/Pemerhati
Aslah: Sebenarnya singkatan dari nama kami, Tasya & Billah, namun setelah dicek, ternyata ada artinya yaitu Yang Lebih Baik.

InsyaAllah Giomar Adiasta Aslah akan menjadi seorang pemimpin/pemerhati yang baik dan dikenali banyak orang. Amin Allahuma Amin...

Nah! Kalau ada yang nanya sakit ngga pas dijaitnya? Saya yakinkan, ngga sakit sama sekali!

Mengingat kembali proses persalinan yang memakan waktu sekitar 30 jam ini benar-benar membuat haru. Perut ngga karuan rasanya, hidung mampet karena flu, kantong mata yang super berkantong, ngantuk dan lapar, tapi semuanya terbayarkan ketika Giomar lahir dan ditaro di atas dada... Alhamdulillah. Alhamdulillah. Salah satu target dalam hidup selain bisa nyetir mobil dan nindik telinga, achieved, yaitu lahiran secara normal.

Terima kasih untuk semua yang selama 30 jam memberikan support dan doa untuk saya, Billah dan Giomar.