Showing posts with label Pregnancy. Show all posts
Showing posts with label Pregnancy. Show all posts

Wednesday, June 22, 2016

"Katanya: Selamat tinggal tidur 8 jam!"

Semenjak Giomar lahir, sudah dipastikan lah ya tidur saya dan suami menjadi berkurang.

Kurang tidur sudah dimulai sejak kandungan masuk 38 minggu, karena perut sudah semakin besar dan mulai was-was kalau ada yang aneh dengan si perut.

Begadang juga dilanjutkan ketika proses lahiran. Kalau ini sih totally ngga tidur. Dimulai dari pembukaan 4, jam 8 malam hingga keesokan harinya ketika Giomar lahir, jam 10 pagi.

Lanjut proses begadang ketika Giomar lahir. Giomar mengalami masalah pernapasan karena terlalu lama di jalan lahir. Jadi dia digolongkan ke dalam bayi sakit dan dipantau selama 24 jam oleh suster di ruang bayi sakit, lantai 1. Sedangkan saya di lantai 2. Untuk memberikan ASI, saya hanya diperbolehkan memberikan ASIP melalu selang yang disediakan. Jadi, saya harus pumping tiga jam sekali. Pokoknya harus kerjasama bareng suami banget. Saya pakai alarm untuk pumping, kemudian suami yang turun ke ruangan bayi sakit dan mencuci botol dan alat pumping. Begitu terus secara berulang selama Giomar di ruang bayi sakit dan disinar.

Sesampainya di rumah. Begadang masih terus berlanjut karena Giomar menyusu tiga jam sekali disertai ganti popok. Apalagi ketika Giomar mengalami growth spurt selama tiga hari. Selalu bangun dari jam 1 sampai jam 4 pagi. Fuuuh, teler banget! Sampe nangis karena bingung dan ngantuk. 

Hingga pada akhirnya Giomar kami rutinkan untuk mandi sore, sebelumnya mandi hanya pagi saja. Tapi atas saran Tantenya Billah dan teman-teman, akhirnya Giomar memulai mandi sore ketika umurnya menginjak dua atau tiga minggu.
Selain itu, kami bawa Giomar pijat di Oma Lies. Kami membawanya ketika Giomar berumur satu bulan. Blaaaassss, setelah pijat, tidur Giomar pun semakin membaik. Membaik dalam arti dia sudah mengikuti pola tidur Ayah dan Ibu nya, namun disela-sela tidur malam, tetap ada proses menyusui, yaitu jam 12 malam, 3 pagi dan 6 pagi.

Saat ini, Giomar menginjak umur empat bulan. Tidurnya sudah bagussss banget! Jam 8 biasanya sudah memasuki waktunya Giomar tidur. Jadi, lampu kamar sudah mati dan memakai lampu tidur. Kamipun membiasakan Giomar tidur pakai baju tidur. Sehingga Giomar merasa nyaman dan hangat. Kalau sekarang, proses menyusu hanya dua kali, biasanya jam 3 pagi dan jam 5 atau jam 6 pagi. Jadi, jatah tidur 8 jam saya pun berangsur kembali.

Jadi, kalau ada yang nyinyir soal tidur, tenang saja! Badai pasti berlalu!! Dan perlu diingat, kebiasaan tidur anak, benar-benar berkiblat dari orang tuanya.

Saturday, May 7, 2016

Giomar Adiasta Aslah

Setelah menanti tepat selama 40 minggu, Alhamdulillah, akhirnya saya dapat melahirkan bayi laki-laki, sehat, yang diberi nama "GIOMAR ADIASTA ASLAH" dengan proses persalinan normal.

Proses menuju persalinan pun dimulai pada:

Rabu, 3 Februari 2016; 16.00 WIB
Kami kontrol ke dr. Bambang Mulyawan di RS. BMC seperti biasa. Setelah dicek, ternyata sudah ada pembukaan. Pembukaan 1 - longgar alias pembukaan 1 cm plus agak longgar (tapi belum sampai 2 cm).  Pada kontrol ini pun, saya diinformasika bahwa saya memiliki tipe "perut gantung" dimana rahim saya agak kebelakang sehingga sudah dapat dipastikan bahwa proses pembukaan akan lama. Lalu saya disuruh pulang terlebih dahulu oleh dr. Bambang. Beliau bilang, anything can be happened in anytime. Bisa besok Subuh atau bahkan dua hari lagi... Lalu kami memutuskan pulang saja. Padahal kami sudah membawa perlengkapan sih, tapi atas saran dr. Bambang, kami memutuskan untuk pulang saja.

Kami belum menginformasikan keluarga bahwa saya sudah berada dipembukaan 1. Kami ngga mau heboh-heboh dulu sampai pembukaan meningkat. Sesampainya di rumah, kontraksi mulai lebih sering terjadi dengan hitungan per 20 - 30 menit sekali. Perut kencang seperti papan namun tidak diiringin mules. Hanya perut kencang saja. 

Kamis, 4 Februari 2016; 03.00 WIB

Dini hari terasa berbeda karena saya tumben-tumbenan tidak buang air kecil. Tapi entah kenapa, saya ingin ke kamar mandi. Lalu saya ke kamar mandi dan sesampainya di depan pintu kamar mandi, saya membuka celana dalam dan mendapati flek/lendir seperti ubur-ubur yang cukup banyak disertai serat-serat darah. Sontak saya kaget, kemudian secara perlahan saya panggil Billah: "Yah...." Pelan sekali... Saya tidak ingin membuat dia panik atau kaget. Lalu Billah langsung membalas sautan dan melihat kondisi saya. Dia cuma nanya: "Apaan tuh!?". Kemudian dia menelepon dr. Bambang, namun tidak diangkat. Tapi tidak lama kemudian, dr. Bambang sms: "Kenapa, Bu?", akhirnya kami menjelaskan apa yang terjadi lewat SMS. Dr. Bambang menyarankan untuk segera ke IGD RS. Bogor Medical Center (BMC) untuk diobservasi. Beliau menyuruh kami tenang dan mengingatkan bahwa proses masih panjang.

Ok, dengan tenang kami pun siap-siap kemudian pamitan dengan Ayah. Huhu, tangan saya sudah basah keringetan...! Deg-degan!

Sesampainya di RS, sekitar jam 04.00 WIB, saya menuju IGD dan cek tensi, so far tensi selalu bagus, antara sekitaran 110/70. Setelah dicek, saya dipindahkan ke ruang tindakan untuk di CTG. Dengan CTG, kita bisa tahu interval kontraksi, gerakan bayi dan denyut jantung bayi. Dalam kurun 20 menit, kontraksinya stabil 5-10 menit sekali, gerakan dan denyut jangtungnya pun bagus. Sementara itu, Billah mengurus administrasi dll.

Setelah CTG selesai, bidan yang berjaga pagi itu, mengecek kembali pembukaan, ternyata masih pembukaan dua. Lalu saya di "bersihkan" oleh bidan. Dimulai dari cukur daerah kemaluan dan mengeluarkan kotoran dari anus. Lalu kami dipindahkan ke ruang observasi sambil menunggu perkembangan pembukaan.

Kamis, 4 Februari 2016; 11.00 WIB

Tujuh jam pun berlalu....
Kontraksi yang saya rasakan tidak ada perkembangan. Bu Bidan cek dalam dan tetap pada pembukaan dua. Setelah mendapatkan konfirmasi dari dr. Bambang, akhirnya diputuskan untuk diinduksi. Saya diinduksi menggunakan obat. Obat tersebut dimasukkan ke dalam vagina. Obatnya tablet biasa, namun dibagi menjadi dua. Obat pertama ditunggu selama 6 jam, apabila tidak ada perkembangan, sisa obat dimasukkan kembali ke dalam vagina. Sampai pada obat kedua, tingkat pembukaan hanya sampai di pembukaan 4.

Oiya, selama pembukaan 1-4, saya dan suami saving energy dengan makan dan tidur. Kalau suami lebih lack of sleep ketimbang saya sih. Karena tidurnya di kursi.

Jum'at, 5 Februari 2016; 01.00 WIB

Akhirnya saya diinduksi kembali menggunakan infusan. Dan tidak lama kemudian ketuban saya pecah. Cukup banyak. Karena ketuban sudah pecah, maka saya diberi antibiotik untuk memberikan perlindungan bagi bayi.

Masuk pada pembukaan 5, mulesnya sudah mulai konstan dan kontraksinya sudah semakin cepat.
Di RS. BMC, apabila sudah masuk pembukaan 5, maka disarankan untuk "rocking", yaitu menggoyang-goyangkan pinggul selagi kontraksi. Saya dan suami dipindahkan ke ruang tindakan. Saya melakukan rocking pada setiap kontraksi sambil memeluk suami.

Dan benar! Pembukaan jadi semakin cepat.

Jum'at, 5 Februari 2016; 07.00 WIB

Saya memasuki pembukaan 8, dan lagi! Saya disuruh rocking oleh bidan-bidan. Dikarenakan perut gantung saya, bayi agak sulit menuju pintu terakhir. Jadi kalau kata bu bidan, ada tanda-tanda dimana si ibu boleh mengejan. Diantaranya adalah sudah ada tonjolan di perinium dan kepala bayi sudah berada di pintu terkhir (kata bu bidan ada tiga pintu yang harus dilewati oleh bayi). Nah, bayi saya nyangkut di pintu terakhir. Maka dari itu saya disarankan rocking. Setelah rocking, saya rebahan lagi sambil meraung-raung. Ya, meraung-raung. Rauangannya apa: "Bu Bidan mau ngeden!"

Asli, memasuki pembukaan 8, rasanya udah pengen ngeden aja. Curi-curi saya ngeden (padahal ngga boleh karena akan bikin trauma bagi si miss v).

Apa yang dilakukan suami? Dia mengabari keluarga bahwa saya sudah memasuki pembukaan 8. Kemudian menyemangati saya. Dia mempraktekan instruksi bidan: "Tarik, tiup, tarik, tiup!" Ehm, ngeliat mukanya sih beneran ngasih semangat, tapi I've known him for 8 years! Keliatan banget pengen ngetawain istrinya yang lagi teriak-teriak nahan kontraksi. Lalu saya menginstruksikan suami untuk kontak dr. Bambang untuk segera datang. Maklum lagi senewen, pokoknya dokter harus dateng saat itu juga. Padahal aslinya sih masih lama sampe lahiran... 

Tidak lama kemudian, dr. Bambang pun datang, dengan tenangnya beliau memeriksa saya DAN pasien di sebelah yang juga mau melahirkan anak ke-2 atau ke-3, intinya bukan anak ke-1. Saya sampe ngga sadar kalau di sebelah ada pasien yang mau lahiran juga. Kenapa? Soalnya ybs cuma: "Aw, aduh, aw, aduh..." Kaya mau pup aja gitu...

Anyway, setelah dr. Bambang cek, beliau menyarankan untuk menunggu sekitar setengah jam, sontak saya langsung menarik lengan dr. Bambang dan bilang "Ngga mau dok, mau ngeden sekarang aja!" Pokoknya hari itu adalah hari bawel sedunia. Semuanya saya teriakin...

dr. Bambang ke ruang sebelah dan kurang dari 15 menit, bayi tetangga sebelah lahir! Makinlah saya drop. Kok bayi saya ngga lahir-lahir.

Jum'at, 5 Februari 2016; 09.30 WIB

Kali ini semua bidan dan dr. Bambang fokus menangani saya. Saya sudah memasuki pembukaan 10, namun si bayi stuck di pintu terakhir. Akhirnya diputuskan untuk di vakum dengan "sedotan" paling rendah serta dibantu dorong oleh bidan. Ketika kepala bayi sudah keluar di pintu terakhir, AKHIRNYA saya MENGEJAN sebanyak 2x.

Jum'at, 5 Februari 2016; 09.47 WIB

Alhamdulillah, lahirlah putra pertama kami, Giomar Adiasta Aslah pada 05 Februari 2016, pukul 09.47 WIB dengan berat: 3160 gr dan panjang: 51 cm.

Nama Giomar Adiasta merupakan nama pilihan saya dan Aslah merupakan pilihan suami. Makna dari nama tersebut:

Giomar: Terkenal
Adiasta: Pemimpin/Pemerhati
Aslah: Sebenarnya singkatan dari nama kami, Tasya & Billah, namun setelah dicek, ternyata ada artinya yaitu Yang Lebih Baik.

InsyaAllah Giomar Adiasta Aslah akan menjadi seorang pemimpin/pemerhati yang baik dan dikenali banyak orang. Amin Allahuma Amin...

Nah! Kalau ada yang nanya sakit ngga pas dijaitnya? Saya yakinkan, ngga sakit sama sekali!

Mengingat kembali proses persalinan yang memakan waktu sekitar 30 jam ini benar-benar membuat haru. Perut ngga karuan rasanya, hidung mampet karena flu, kantong mata yang super berkantong, ngantuk dan lapar, tapi semuanya terbayarkan ketika Giomar lahir dan ditaro di atas dada... Alhamdulillah. Alhamdulillah. Salah satu target dalam hidup selain bisa nyetir mobil dan nindik telinga, achieved, yaitu lahiran secara normal.

Terima kasih untuk semua yang selama 30 jam memberikan support dan doa untuk saya, Billah dan Giomar.

Saturday, January 2, 2016

"Kalau kaya gini, ada yang polos ngga, Mbak?!"

Sebelum tujuh bulanan, saya pribadi sudah ancang-ancang untuk membeli kebutuhan Kakak dan saya pribadi paska lahiran. Anehnya, setelah tujuh bulanan, saya malah mengulur-ulur waktu untuk membeli ini itu. Mungkin karena cuaca juga kali ya, ujaaaan terus. Jadi saya males. Sampai pada akhirnya saya dan suami mampir ke toko bayi "Tiara", Bogor. Toko Tiara ini merupakan top list rekomendasi orang-orang Bogor yang hendak ngeborong perkakas bayi/ibu. Mengapa? Murah! Waktu itu kami kesananya Minggu siang. Fix, kami salah jadwal. Keadaan toko saat itu rame banget dan tokonya tidak terlalu besar. Saran saja, lebih baik kalau mau kesana, mending weekdays dan jamnya pagi sekali atau sekalian menjelang malam. Jadi toko tidak terlalu ramai.

Hari itu, kami tidak berlama-lama di sana, hanya membeli atasan tangan pendek, atasan tanpa lengan, celana panjang, celana pendek dan topi dengan ukuran new born, S/M.

Berdasarkan cerita teman-teman, size new born tidak terlalu lama terpakai, sehingga saya mix antara size new born dengan size S/M. Selain itu, baju Kakak motifnya harus polos! Harus! Kalau bisa warnanya monochrome malahan. Jadi, pas masuk toko, pertanyaannya: "Kalau kaya gini, ada yang polos ngga, Mbak?!"
Maklum, saya dan suami cinta mati sama warna monochrome! 

Setelah belanja sekali, ternyata bener ya, langsung ketagihan dan baru ngerasa banyak yang belum lengkap. Akhirnya saya membuka catatan dan mencheck list kembali perlengkapan Kakak dan saya. Oya, sebelum saya resign, Alhamdulillah orang kantor banyak yang kasih hadiah untuk Kakak. Jadi ada beberapa barang yang ngga perlu dibeli lagi.

Saya iya-in aja apa kata orang-orang, belinya jangan banyak-banyak. Namun, saya pun melihat keadaan cuaca, dimana prediksi lahir Kakak, tepat pada puncaknya musim hujan. Jadi, saya beli agak banyak untuk atasan dan popok kain. Sampai saat ini sih saya bertekad mau kasih popok kain. Well, we'll see!

Selain ke toko "Tiara", saya pun membeli beberapa barang di "Baby House", tempatnya nyaman, meskipun tetap saja ramai. Untuk harga, saya tidak terlalu memperhatikan, namun kalaupun ada perbedaan, paling hanya beberapa perak. Intinya enak kalo mau agak lama-lama di toko ini.

Barang terakhir yang sampai saat ini belum saya beli adalah alat pumping electric. Kebetulan saya dapat lungsuran yang manual. Saya dan suami mau lihat dulu seberapa butuh pumping electric karena status saya yang tidak bekerja, jadi saya ingin menyusui langsung. Meskipun katanya akan ada masa dimana saya harus pumping.

Sekarang saya dan Kakak sudah memasuki 35 minggu! Bismillah....

Can't wait to see you Kak!

Wednesday, December 23, 2015

Pengajian Tujuh Bulanan & Acara Tingkeban

Alhamdulillah! Akhirnya memasuki trimester akhir. Tepat memasuki minggu ke-28, kami menggelar pengajian tujuh bulanan dan acara tingkeban. Sempat berencana mengadakan pengajian ini di rumah orangtua saya, namun melihat tingkat keribetannya, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mengadakan pengajian tujuh bulanan dan tingkeban ini di rumah mertua (tempat yang saya tinggali semenjak menikah hingga saat ini).

Kenapa tepat pada minggu ke-28?
Nah, ini dia. Yang saya lihat di beberapa blog/Instagram orang, biasanya acara pengajian tujuh bulanan dan tingkeban/mitoni, dilaksanakan pada minggu ke-30an. Intinya setelah minggu ke-28. Ada tiga alasan:
1. Jadwal orang sanggarnya penuuuh! Jadi hanya available pada 15 November 2015;
2. Jadwal Mama dan Ayah mertua saya juga penuh setelah tanggal 15 November 2015 dan
3. Kalau melebihi tanggal 15, saya ngga enak sama kakak saya yang akan melaksanakan prosesi lamaran pada pertengahan Desember, 2015. Karena momen kumpul keluarganya terlalu berdekatan.

Jadi, diputuskan lah acara pengajian tujuh bulanan dan tingkeban ini dilaksanan pada Minggu, 15 November 2015.

Dua minggu sebelum acara, suami meminta saya untuk membuat undangan sederhana untuk dikirimkan ke keluarga dan sahabat.

Ibu-ibu pengajian yang kami undang adalah Ibu-ibu pengajian ketika saya pengajian menjelang pernikahan. Pimpinannya adalah Ibu Ummah. Beliau baaaaikkkk sekali. Kami tidak mengundang tetangga karena kami pikir ini acara keluarga dan sahabat terdekat saja.

Untuk prosesi Tingkeban, dekorasi dan make-up dll, saya percayakan kepada Sanggar Elyz Griya Pengantin. Ini kedua kalinya kami menggunakan jasa Sanggar Elyz. Sudah terlanjur jatuh cinta oleh profesionalisme tim Elyz Griya Pengantin! 

Yang jadi masalah adalah baju! Asli deh, saya ngga doyan pake gamis. Sewaktu acara pengajian menjelang pernikahan saja, saya ngejait dengan model baju kurung dan bawahan batik. Pinjem gamis temen, tapi ngerasa ngga cocok. Alhasil saya browsing di Instagram dan nemu gamis klasik (bukan gamis hedon jaman sekarang) dan harganya OK! Case closed untuk gamis. Sekarang tinggal keblinger cari kebaya setelah prosesi siraman. Kebaya satu-satunya yang muat itu akan dipakai pas siraman. Nah setelah itu, gatau mau pake kebaya apa! Ngga ada yang muat! Lalu Mama ngajak ke Djene, tempat beli kebaya favorit! Meskipun agak mahal tapi awet dan worth it to buy. Akhirnya ketemu kebaya warna kuning gonjreng dan amazingly size masih S aja lho!

Untuk makanan, kami menggunakan catering @KedaiJantan dan dapet bonus Teteh Ika yang bantuin. Alhamdulillah....

Pada hari H, jam 9 acara pengajian pun dimulai. Tidak terlalu banyak keluarga yang datang. Saya nangis bombaaaaay ketika harus membacakan doa kepada Kakak. Sempat sekitar 3 menit tidak ada suara dari mulut saya karena menahan tangis. Cukup terharu karena mengingat selama hampir 7 bulan ini, suka dan duka yang rasakan. Meskipun saya tau bahwa experience kehamilan pertama ini, masih banyak di luar sana Ibu-ibu yang lebih berat dalam proses kehamilan.

Billah dan Mama pun membacakan doa untuk Kakak. Lancaaarrr jaya ngga pake nangis! Kemudian saya dan suami berkeliling minta doa restu kepada yang hadir diiringi shalawat. Saya nangissss lagi! Duh, cengeng yah!? Maafkan Ibu, Kak!

Setelah selesai, saya dan suami masuk ke kamar untuk ganti baju. Suami pakai beskap dan saya pakai kain untuk siraman. Lalu ada prosesi sungkeman kemudian siraman deh. Acaranya lucu! Ada momen dimana saya dililit kain sebanyak 7 kali dan setiap pergantian kain, dikasih belut di perut saya. Ga kuat liat belutnya, akhirnya sekali aja yang pake belut-belutan itu. Terus kain-kainnya di lempar kepada yang hadir. Selain itu, Billah pun harus memilih dua kelapa yang sudah bergambar. Dia mengambil yang kelapa dengan gambar anak laki-laki. Untuk membuktikannya, kalau ujung kelapa dibelah, harusnya keluar cipratan air. Agak sulit ya ternyata! Tapi keluar kok cipratan airnya. InsyaAllah laki-laki yaaaa, Kak! 

Nah, prosesi terakhir adalah prosesi jualan rujak dan dawet! Billah jualan dawet dan saya jualan rujak serut. Kalau Ibu-ibu pasti maunya rujak! Tapi dawet lebih cepat habissss!! Setelah itu acara ramah tamah dan makan siang.

Alhamdulillah acara berjalan lancar dan InsyaAllah membawa keberkahan untuk saya, suami dan bayi di dalam kandungan saya. Amin YRA.....!




Friday, November 27, 2015

It’s Ibu & Baby G’s Baby Shower!

Alhamdulillah…
Tiada hentinya saya berucap syukur karena dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik banget: “Submissive!”
(Duh maaf ya, namanya obsessed dari film Fifty Shades of Grey)

Ketujuh perempuan cantik (Anais, Niny, Didi, Ndo, Ditty, Ichy, dan Iren) ini merupakan kakak kelas saya sewaktu kuliah di Tarakanita. Iya, kakak kelas semua! Saya ngga punya geng seangkatan, maklum, jarang bergaul. Saya tipe kupu-kupu alias kuliah, pulang, kuliah, pulang. Nah, sewaktu “pulang” inilah saya bertemu dengan ketujuh orang ini. Kami satu kosan, jadi, pagi, siang, sore, malam, saya selalu ngintil dengan mereka.

Tiga minggu sebelum baby shower, saya dihubungi oleh Niny & Ndo. Keduanya sama-sama nanya apakah saya available untuk kumpul-kumpul di Nutmeg, Kemang, 22 November 2015. Saya meng-iyakan bahwa saya available. Nah, kalau kumpul-kumpul komplit gini, biasanya suka iseng pakai baju berwarna sama, saya pun bertanya, pakai baju warna apa. Niny bilang warna putih… Ok, obrak-abrik lemari nyari baju putih yang masih muat.

Dua minggu sebelum acara, saya main ke rumah salah satu diantara mereka, yaitu Ais. Ais dengen polosnya keceplosan bahwa tanggal 22 November 2015 itu merupakan acara baby shower! Dang!!! Bocorlah acara baby shower itu….. Tapi saya tetep ngga tau konsep acaranya seperti apa. (Actually, I was so excited!)

Tanggal 22 November 2015 pun tiba. Pagi-pagi saya sudah dikontak untuk datang jam 2 siang. Kalau bisa telat aja datengnya… (Kaliaaaan!!)

Sesampainya di Nutmeg, tadaaaaaa!!! Thank you to all Bude(s) for making this baby shower! 
Kakak and I feel so blessed.

Here are the photos:







Tuesday, November 10, 2015

Happy Mommy, Happy Baby....

Setiap kehamilan pasti memiliki suka dan dukanya masing-masing. Begitupun dengan kehamilan saya. Sedikit bercerita bagaimana akhirnya saya bisa menulis kalimat ini pada kolom about
"I'm no longer working and now starting blogging, painting and playing my new toy (re: sewing machine)"

Domisili saya dan suami di Bogor. Kami berdua bekerja di Jakarta. Suami di daerah Ps. Minggu dan saya di daerah KH. Mas Mansyur. 

Semenjak kuliah, saya sudah terbiasa dengan yang namanya ngekos. Ngga ada cerita tuh yang namanya pulang pergi Bogor - Jakarta - BogorSempet sih ngerasain PP Bogor - Jakarta - Bogor pas kuliah di akhir semester, tapi cuma bertahan tiga bulan, kemudian ngekos bareng Mama.
Nah, setelah menikah, saya memutuskan untuk tinggal di rumah mertua karena kebetulan kantor saya menyediakan fasilitas mobil shuttle. Rute mobil tersebut melewati perumahan mertua saya. Selain itu, mertua saya (Ayah), hanya tinggal sendiri, jadi, akan lebih baik jika kami tinggal bersama beliau, Saya sudah komit dengan suami untuk PP Bogor - Jakarta - Bogor.

Saya menikah pada 2 Mei 2015, lalu honeymoon kira-kira dua minggu dan baru kembali bekerja pada minggu ketiga. Pada minggu ketiga dan keempat, saya tidak merasakan halangan yang berarti untuk bekerja. Bangun setiap hari pukul 04.00 WIB dan dijemput di depan perumahan pukul 05.00 WIB, Pokoknya setelah solat Subuh, saya berangkat. Pulangnya selalu on-time, yaitu jam 16.10 WIB dari kantor dan sampai di Bogor kira-kira jam 17.30 atau 18.00 WIB.

Sampai pada akhirnya saya mengetahui bahwa saya sedang mengandung enam minggu, saat itulah setiap pagi, asam lambung saya naik. Jadi, setiap pagi saya muntah berupa cairan dan rasanya pait. Hampir setiap pagi saya merasakan hal itu. Saya baca beberapa blog, dan beberapa ibu hamil mengalami hal tersebut. Saya pun berasumsi bahwa muntah-muntah ini akan hialng seiring berjalannya waktu, ya let say tiga bulan pertama saja. Ternyata tidak, setelah melewati 12 minggu, mual saya hilang, tapi asam lambung saya tetap muncul tiap pagi. Amazingly, ketika weekend atau libur, asam lambungnya ngga kambuh. Ok, saya sudah curiga bahwa asam lambung ini lebih kepada keadaan psikologis saya. Mungkin ini merupakan hasil dari stress saya akan perjalanan Bogor - Jakarta - Bogor. Ketika berbadan dua ini, tubuh saya tidak sesiap ketika saya belum hamil.

Selain asam lambung, dalam kurun empat bulan, saya dua kali terserang flu dan batuk berat yang mengharuskan saya minum obat. Disamping itu, saya punya alergi debu dan udara ekstrim sehingga ketika saya terkena flu dan batuk, pasti saya drop.

Masalah terakhir pun tidak kalah seru, yaitu berat badan saya tidak ada kenaikan sama sekali hingga 20 minggu! Malahan turun dua kilo karena saya mogok makan pada awal-awal kehamilan. Setelah 12 minggu, dokter cukup heran karena berat badan tidak berubah padahal nafsu makan saya sudah kembali seperti biasa,

Ok, sampai pada akhirnya saya berdiskusi dengan suami tentang possibility saya untuk resign dalam waktu dekat. Rencana awal kami, saya memang akan resign ketika buah hati kami ini lahir, tapi melihat kondisi yang tidak stabil ini, mungkin lebih baik lebih cepat. Respon suami tentunya sangat senang apabila saya benar memutuskan akan resign dalam waktu dekat.

Setelah mendapatkan restu dari suami, keesokan harinya, sebelum saya sibuk dengan email bertubi-tubi, saya menyempatkan diri untuk berdiskusi dan menginformasikan bahwa saya akan resign kepada bos saya. Hari itu juga resignation letter saya diterima oleh tiga atasan saya. Mereka semua menyayangkan hal ini namun di lain sisi mereka mengerti bahwa saya sedang dihadapkan pada prioritas hidup.

Tepat dua minggu setelah saya mengajukan resign, believe it or not, berat badan saya langsung naik 2,5 kg! Dari kenaikan berat badan tersebut, maka saya menyimpulkan:

"HAPPY MOMMY, HAPPY BABY!"

Kakak bisa merasakan kebahagiaan saya dalam memilih prioritas dalam hidup, yaitu fokus kepada dirinya, diri saya sendiri dan suami. Berkat dari Tuhan yaitu berupa sebuah awal pernikahan  yang diiringi dengan kehamilan pertama. Maka, harus saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak dipungkiri saya sempat memikirkan soal uang. Karena pemasukkan nantinya akan datang hanya dari suami (tidak double income). Namun saya percaya, Tuhan tidak pernah tertukar dalam memberikan rezekinya dan semuanya kembali lagi kepada cara kita menggunakan rezeki itu dengan wise. Saya masih belajar juga kok! (Online shop is so tempting until now!!)

So, stay healthy and happy, Kak!
Be goood sayangnya Ibu dan Ayah....

Tuesday, November 3, 2015

"Kok garisnya dua, Non?! Kok ngga positif?!"

Now, it's time to spread the good news to our parents!

Ok, pertama kali (kalo ngga salah) saya info Mama, Abang (Kakak) dan Boris (Adik) melalui group WA. Saya kirim hasil foto test pack dan saya bertanya: "Udah siap jadi Oma? Uwa? dan Om?


Berikut respon yang saya terima:


Boris: Horeeeee!
Abang: Tokcerrrr!
Mama: Alhamdulillah....


Tapi ngga lama kemudian, si Mama nanya: "Kok garisnya dua sih, Non?! Kok ngga positif?!"

Ini Mamaku si aktifis gender tetep juga ada kedernya dengan alat test pack. Lalu saya jelaskan lah bahwa test pack yang dipakai adalah test pack dengan hasil garis, bukan simbol positif atau negatif.

Lain cerita dengan Billah....

Saat itu Ayahnya hendak berpamitan untuk berangkat ke kantor. Lalu kebiasaan di rumah sebelum bepergian adalah salam, cipika dan cipiki (sweet!).
Nah, tetiba Billah bilang: "Yah, si Tasya bunting!"
Sontak saya langsung bilang: "Issss, emangnya aku sapiiii!!" (siyaaaal!)
Ayah tertawa kemudian berucap Alhamdulillah. Beliau menyarankan untuk rutin cek dan pindah kamar (kamar kami di lantai dua dan beliau khawatir dengan naik turun tangga).


We love you, Aki, Nini, Aki, Enin, Uwak(s) & Om!

Monday, November 2, 2015

"Selamat ya, Bu, Pak..."

Dua minggu pun berlalu, akhirnya kami menjadwalkan untuk kontrol dengan dr. Farchan Djoened di Klinik Kimia Farma, Juanda pada Jumat, 15 Juni 2015. Beliau praktek pukul 19.00 - 21.00 WIB.

Kami datang tepat pukul 19.00 WIB dan dr. Farchan tiba pukul 20.00 WIB (well, no problem! maklum, saking excitednya).

Saya sudah pernah baca beberapa blog yang menyatakan bahwa dr. Farchan cenderung pendiam jadi harus kita yang inisiatif untuk bertanya. Namun, pada check-up pertama ini, beliau tidak sependiam itu. Lebih tepatnya beliau menginformasikan apa yang harus diinformasikan dan menjawab apa yang ditanyakan oleh pasien.

Beberapa pertanyaan yang dr. Farchan tanyakan antara lain:


1. Kapan terakhir kali mesntruasi?
2. Tanggal berapa dimulainya menstruasi pada menstruasi terakhir itu?
3. Berat badan berapa? *kebetulan saya lupa dan ngga yakin pastinya berapa, alhasil ditimbang dulu. Timbangan menunjukkan diangka 50 kg.

Kemudian USG pun dimulai. Ehm, alat USG nya sepertinya sudah kuno, jadi kurang terlihat jelas. Tapi saya dan Billah bisa melihat ada kantung berbentuk bulat.. Kemudian dr. Farchan pun mengucapkan: "Selamat ya, Bu, Pak, positif hamil"

ALHAMDULILLAH, akhirnya kalimat itu terucap juga.


"Kakak berumur 6 minggu 1 hari"
Kalau dilihat secara seksama, tertera GS berukuran 2,3 cm yang artinya ukuran si kantung janin masih sebesar 2,3 cm. Keciiiiiilll banget! Ngga kebayang si bayiknya sekecil apa...
Terlihat juga umur kandungan yaitu 6w1d dan EDD (Estimated Delviery Date), yaitu 7 Februari 2016. Yippy!

dr. Farchan memberikan vitamin yang sama, yaitu Folamil Genio dan obat penguat kandungan Duphaston untuk 30 hari. Kemudian beliau pun bertanya apakah pusing dan mual, jika iya, beliau hanya bilang: "Enjoy saja ya, Bu. Tidak akan saya kasih obat untuk mengurangi dua keluhan tersebut." kemudian beliau mengingatkan untuk tidak berhubungan sex terlebih dahulu, serta mengurangi MSG, mentah dan bakar (basically sama seperti saran dr. Probo).

Sejak sebelum menikah, saya dan Billah suka iseng, sekiranya kalau punya anak, mau dipanggil apa. Ternyata Billah maunya dipanggil AYAH dana saya maunya dipanggil IBU. Kemudian kami memanggil si jabang bayi dengan panggilan KAKAK!

Ayah & Ibu sayang Kakak!!

Monday, October 26, 2015

Dua Garis Merah!

…Terdiam beberapa saat sambil melihat hasil test pack di kamar mandi kantor…

"Dua Garis Merah"


Itulah reaksi saya ketika melihat hasil testpack "dua garis merah" di kamar mandi kantor pada Jum'at, 29 Mei 2015. Jadi, hari itu, saya baru telat dua hari. Dari tanggalan bulan-bulan sebelumnya, biasanya saya telat 5 - 7 hari. Jadi saya agak amazed dan bego planga-plongo melihat hasil test pack nya.


Alhamdulillah…

Setelah itu, saya bergegas kembali ke cubicle dan WA suami.
Tasya : Yang, kayaknya aku hamil deh… *sekalian ngirim hasil test pack*
Balesan suami rada lupa kaya gimana, tapi intinya dia berucap syukur Alhamdulillah dan langsung tegang deg-degan. Kemudian kami memutuskan untuk cek ke dokter pada minggu berikutnya.

Kami belum menginformasikan ini ke siapa-siapa sampai kami melihat hasil USG atau ada kalimat: "Selamat ya Bu, Pak, hasilnya positif."

Hari itu, diwaktu lengang, saya menghabiskan waktu membaca blog Ibu-ibu yang berdomisili di Bogor dan rekomendasi dokter kandungan. Kemudian saya teringat rekomendasi Tante tentang dokter SpOG bagus di Bogor, yaitu dr. Farchan Djoened. Kemudian saya coba searching, ternyata beliau praktek di beberapa tempat, yaitu, RS. BMC, Klinik Kimia Farma, Juanda dan di RS. PMI (dengan perjanjian). Lalu saya telepon ke RS. BMC untuk registrasi. Sayangnya, beliau sedang cuti dua minggu. Rasanya ngga sanggup untuk menunggu hingga dua minggu.

Minggu depannya, sepulang kantor, saya dan suami iseng ke RSB Nuraida, ternyata dokter SpOG tidak selalu standby di sana. Setelah itu, tiba-tiba, saya merasa ingin makan RAMEN! OMG, selama pacaran 8 tahun dengan suami, ngga ada cerita yang namanya ngedate makan ramen, saya ngga suka! Amis! Rasanya aneh.. Tapi saat itu, saya ingin sekali makan ramen… Akhirnya kami pergi ke Daiji Ramen, Villa Duta. Daaaan, ludes, habis, raib!! Billah cuma bisa ngeliatin bingung dan nanya: "Enak?"

Keesokan harinya, kami memutuskan random untuk cek ke dokter SpOG siapa aja di RS. Hermina, Bogor. Bertemulah kami dengan dr. Probo Mangastomo. Sepertinya beliau dokter baru karena tulisan papan namanya masih manual :D
Lalu saya di USG dan belum terlihat apa-apa, hanya terlihat penebalan dinding rahim. Dihitung dari hari pertama menstruasi pada jadwal terakhir, kemungkinan kandungan saya berumur kurang lebih 4 minggu. Dokter menanyakan apakah saya merasa mual, muntah dan pusing. Alhamdulillah, tidak. 

dr. Probo memberikan saya vitamin "Folamil Genio" untuk 30 hari dan menyarankan agar menghindari makanan yang kurang matang, bakar dan MSG.

Yaaaa, seperti biasa, pulang dari dokter, saya galaaau karena takut ada apa-apa dengan si jabang bayi. Kok belum keliatan? Apakah wajar? Lalu saya baca soal janin yang tidak tumbuh dengan sempurna. Lalu saya bilang sama suami, kalau dr. Farchan sudah ada, langsung kontrol lagi ya, ngga perlu nunggu satu bulan. Dan suami pun meng-iya-kan.

Oiya, sedikit saran, biar ngga boros berkali-kali ke dokter. Lebih baik menunggu hingga telat menstruasi 2 minggu, jadi ketika dicek, sudah terlihat apakah janin berkembang dengan sempurna atau tidak. DAN, ngga perlu beli test pack berbagai merk, mau yang canggih sampai yang biasa aja, kalau hamil, tandanya tetep sama kok (either dua garis merah atau tanda positif).

Bismillah....