Saturday, February 4, 2017

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-1, GIOMAR ADIASTA ASLAH....

Terima kasih, Giomar....


Karena sudah berhasil melawan jutaan sperma lain, menjadi juara dan singgah di dalam rahim Ibu tepat selama 40 minggu;

Karena tidak membuat Ibu merasakan "morning sickness" berkepanjangan pada awal kehamilan;
Karena sudah baik budi selama di dalam kandungan Ibu;
Karena sudah berjuang bersama Ibu & Ayah selama hampir 30 jam dan tetap bertahan untuk keluar melalu jalur yang Allah, Ibu, Ayah, dan Dokter Bambang inginkan;
_________


Karena tetap bertahan hingga hari ini untuk memanfaatkan ASI Ibu dengan sebaik-baiknya;

Karena sejak awal MP-ASI hingga hari ini, makanmu selalu lahap dan setia dengan sabar duduk di high chair;
Karena kamu bersedia mengikuti pola Ayah & Ibu yang terbiasa dengan tidur cepat;
Karena dengan hanya usap-usap punggung dan tepuk pantat, kamu bisa terlelap;
Karena tumbuh kembangmu yang sesuai dengan umurmu;


Terima kasih atas kebahagiaan yang kamu berikan kepada Ibu, Ayah dan orang-orang tersayang di sekitarmu;

___________


Mohon maaf, Giomar...



Apabila kami khususnya Ibu kurang sabar dalam menanggapi celotehan dan keingintahuanmu;

Apabila Ibu suka keasyikan sendiri dengan HP/TV/Komputer;
Apabila Ibu beberapa kali membuatmu capek hanya karena Ibu bosan (re: ke mall berjam-jam)
Apabila Ibu beberapa kali membuatmu begadang;
Apabila Ibu bentak/teriak marah kepadamu hanya karena hal sepele;


Semoga diulang tahunmu yang pertama ini, Insya Allah Giomar senantiasa diberi kebahagiaan,, kesehatan, tumbuh kembang sempurna, baik budi dan diberkahi selalu oleh Allah SWT.



Semoga Ayah & Ibu diberikan kerendahan hati, dijauhkan dari kesombongan dan kecurigaan dalam proses belajar bersama Giomar.



Rabbi Habli Minas Sholihin....

Amin YRA.....

Wednesday, June 22, 2016

"Katanya: Selamat tinggal tidur 8 jam!"

Semenjak Giomar lahir, sudah dipastikan lah ya tidur saya dan suami menjadi berkurang.

Kurang tidur sudah dimulai sejak kandungan masuk 38 minggu, karena perut sudah semakin besar dan mulai was-was kalau ada yang aneh dengan si perut.

Begadang juga dilanjutkan ketika proses lahiran. Kalau ini sih totally ngga tidur. Dimulai dari pembukaan 4, jam 8 malam hingga keesokan harinya ketika Giomar lahir, jam 10 pagi.

Lanjut proses begadang ketika Giomar lahir. Giomar mengalami masalah pernapasan karena terlalu lama di jalan lahir. Jadi dia digolongkan ke dalam bayi sakit dan dipantau selama 24 jam oleh suster di ruang bayi sakit, lantai 1. Sedangkan saya di lantai 2. Untuk memberikan ASI, saya hanya diperbolehkan memberikan ASIP melalu selang yang disediakan. Jadi, saya harus pumping tiga jam sekali. Pokoknya harus kerjasama bareng suami banget. Saya pakai alarm untuk pumping, kemudian suami yang turun ke ruangan bayi sakit dan mencuci botol dan alat pumping. Begitu terus secara berulang selama Giomar di ruang bayi sakit dan disinar.

Sesampainya di rumah. Begadang masih terus berlanjut karena Giomar menyusu tiga jam sekali disertai ganti popok. Apalagi ketika Giomar mengalami growth spurt selama tiga hari. Selalu bangun dari jam 1 sampai jam 4 pagi. Fuuuh, teler banget! Sampe nangis karena bingung dan ngantuk. 

Hingga pada akhirnya Giomar kami rutinkan untuk mandi sore, sebelumnya mandi hanya pagi saja. Tapi atas saran Tantenya Billah dan teman-teman, akhirnya Giomar memulai mandi sore ketika umurnya menginjak dua atau tiga minggu.
Selain itu, kami bawa Giomar pijat di Oma Lies. Kami membawanya ketika Giomar berumur satu bulan. Blaaaassss, setelah pijat, tidur Giomar pun semakin membaik. Membaik dalam arti dia sudah mengikuti pola tidur Ayah dan Ibu nya, namun disela-sela tidur malam, tetap ada proses menyusui, yaitu jam 12 malam, 3 pagi dan 6 pagi.

Saat ini, Giomar menginjak umur empat bulan. Tidurnya sudah bagussss banget! Jam 8 biasanya sudah memasuki waktunya Giomar tidur. Jadi, lampu kamar sudah mati dan memakai lampu tidur. Kamipun membiasakan Giomar tidur pakai baju tidur. Sehingga Giomar merasa nyaman dan hangat. Kalau sekarang, proses menyusu hanya dua kali, biasanya jam 3 pagi dan jam 5 atau jam 6 pagi. Jadi, jatah tidur 8 jam saya pun berangsur kembali.

Jadi, kalau ada yang nyinyir soal tidur, tenang saja! Badai pasti berlalu!! Dan perlu diingat, kebiasaan tidur anak, benar-benar berkiblat dari orang tuanya.

Monday, June 20, 2016

Giomar Goes to Pontianak

Beberapa minggu lalu, randomly Datuk nya Giomar ngasih ide untuk bersilaturahmi ke Pontianak sekalian nyekar ke makam Mbahyut sebelum puasa. Setelah negosiasi tanggal, akhirnya diputuskan berangkat tanggal 4 Juni 2016 dan pulang tanggal 7 Juni 2016. Jadi kami bisa menikmati puasa pertama di Pontianak.

Meskipun ada sih yang bilang katanya gampang-gampang aja bawa bayi traveling (Zzz!), tapi tetap saja, saya dan suami mempersiapkan strategi dan perlengkapan untuk Giomar, mengingat ini pertama kalinya Giomar naik pesawat diumurnya yang baru menginjak empat bulan.

1. Kami memilih flight pagi, yaitu pukul 05.20 pagi untuk keberangkatan dan 06.15 untuk kepulangan. Mengapa? Untuk Giomar sendiri, jam 05.20/06.15 masih merupakan jam tidurnya. Jadi, kami berharap Giomar masih tidur selama perjalanan di pesawat.

Fakta:
Memilih flight pada jam tidurnya memang pilihan tepat kok! Dan yang perlu diingat juga adalah perjalanan menuju bandara. First flight menjadi lebih kondusif karena mood Giomar bagus selama perjalanan Bogor - Jakarta. Ngga macet! Ketika perjalanan Jakarta - Pontianak, Giomar tidur selama perjalanan. Ketika pulang, Pontianak - Jakarta, Giomar tidur tapi ditengah perjalanan, Giomar terbangun. Tapi tidak lama kemudian dia tidur lagi.


2. Sewa earmuff dan baby's carrier. Baca blog beberapa orang, katanya kedua items ini penting. Kebetulan kami ngga punya, jadi sewa saja di ecomama.com

Fakta:
Earmuff is a must! Apalagi kondisinya jam tidur, otomatis bukan jamnya bayi nyusu. Emang keliatannya ribet ya. Tapi Giomar anteng-anteng aja pakai earmuff. Oiya, pasang earmuff sebelum masuk pesawat ya. Kalau udah di pesawat ribet. Ketika keberangkatan, saya memakaikannya di pesawat. Agak ribet soalnya Giomar excited liat pesawat. Nah, belajar dari pengalaman pas keberangkatan, ketika pulang, saya sudah pakaikan earmuff ketika di ruang tunggu.


Baby's carrier ngga kepake sama sekali. Pokoknya kami tidak menemukan kesempatan untuk menggunakan baby's carrier. Mungkin karena baru duduk di mobil sebentar, kemudian ngga lama sudah sampai lokasi.


3. Tetap membawa stroller meskipun terdengar ribet.



Fakta:

Big thanks to stroller!
Mengingat Giomar lehernya belum tegak banget dan lebih nyaman bila tiduran atau setengah duduk, jadinya kami memutuskan untuk membawa stroller. Selain memikirkan kenyamanan bayi, kenyamanan orang tua juga  harus dipikirkan lho. Ketika di bandara, stroller kami wrapping lalu masuk bagasi. Sesampainya di Bandara Supadio, stroller langsung kami buka, sehingga Giomar bisa langsung rebahan dan kami bisa dengan tenang menunggu koper. Diberbagai tempat kuliner, Giomar selalu pakai stroller, jadi kami bisa dengan santai makan. dan tidak kerepotan untuk menggendong. Emang lebih effort karena harus buka tutup si stroller, tapi worth it karena dibalas oleh makan dengan tenang. Ada saat di mana Giomar mau digendong, tapi setelah tenang/ketiduran, dengan mudahnya kami bisa taro dia di stroller lagi.



4. Jangan lupa membawa Baby Balsam, Young Living Essentials Oil + VCO, Nosefrida dan Obat penurun panas. Bukan berharap Giomar masuk angin atau kena batuk pilek ya, tapi ketiga items ini wajib hukumnya untuk dibawa ketika travelling. Apalagi Giomar perginya ke Pontianak dimana cuacanya panaaaasss.



Fakta:

Benar saja, hari ke-2 Giomar di Pontianak, sepulang dari menyusuri Sungai Kapuas tengah hari bolong, setelah mandi sore, biasanya Giomar tidur, tapi kali ini dia malah menangis. Sepertinya sudah mengantuk tapi ngga enak badan. Selama setengah jam Giomar rewel, akhirnya saya balur badannya pakai baby balsam (Giomar alergi pakai minyak telon, jadi sudah tidak pakai minyak telon lagi), kemudian kakinya saya pijat menggunakan YL RC dan VCO. Saya tinggal sebentar cuci tangan, eh, langsung pules. Nosefrida sempet dipakai kalau malem kedengeran suara nafasnya grok grok, biasanya mampet karena AC terlalu dingin. Untuk obat penurun panas, Alhamdulillah tidak dipakai.


Intinya bayi dan orangtua harus sama-sama nyaman ya!

Saturday, May 7, 2016

Giomar Adiasta Aslah

Setelah menanti tepat selama 40 minggu, Alhamdulillah, akhirnya saya dapat melahirkan bayi laki-laki, sehat, yang diberi nama "GIOMAR ADIASTA ASLAH" dengan proses persalinan normal.

Proses menuju persalinan pun dimulai pada:

Rabu, 3 Februari 2016; 16.00 WIB
Kami kontrol ke dr. Bambang Mulyawan di RS. BMC seperti biasa. Setelah dicek, ternyata sudah ada pembukaan. Pembukaan 1 - longgar alias pembukaan 1 cm plus agak longgar (tapi belum sampai 2 cm).  Pada kontrol ini pun, saya diinformasika bahwa saya memiliki tipe "perut gantung" dimana rahim saya agak kebelakang sehingga sudah dapat dipastikan bahwa proses pembukaan akan lama. Lalu saya disuruh pulang terlebih dahulu oleh dr. Bambang. Beliau bilang, anything can be happened in anytime. Bisa besok Subuh atau bahkan dua hari lagi... Lalu kami memutuskan pulang saja. Padahal kami sudah membawa perlengkapan sih, tapi atas saran dr. Bambang, kami memutuskan untuk pulang saja.

Kami belum menginformasikan keluarga bahwa saya sudah berada dipembukaan 1. Kami ngga mau heboh-heboh dulu sampai pembukaan meningkat. Sesampainya di rumah, kontraksi mulai lebih sering terjadi dengan hitungan per 20 - 30 menit sekali. Perut kencang seperti papan namun tidak diiringin mules. Hanya perut kencang saja. 

Kamis, 4 Februari 2016; 03.00 WIB

Dini hari terasa berbeda karena saya tumben-tumbenan tidak buang air kecil. Tapi entah kenapa, saya ingin ke kamar mandi. Lalu saya ke kamar mandi dan sesampainya di depan pintu kamar mandi, saya membuka celana dalam dan mendapati flek/lendir seperti ubur-ubur yang cukup banyak disertai serat-serat darah. Sontak saya kaget, kemudian secara perlahan saya panggil Billah: "Yah...." Pelan sekali... Saya tidak ingin membuat dia panik atau kaget. Lalu Billah langsung membalas sautan dan melihat kondisi saya. Dia cuma nanya: "Apaan tuh!?". Kemudian dia menelepon dr. Bambang, namun tidak diangkat. Tapi tidak lama kemudian, dr. Bambang sms: "Kenapa, Bu?", akhirnya kami menjelaskan apa yang terjadi lewat SMS. Dr. Bambang menyarankan untuk segera ke IGD RS. Bogor Medical Center (BMC) untuk diobservasi. Beliau menyuruh kami tenang dan mengingatkan bahwa proses masih panjang.

Ok, dengan tenang kami pun siap-siap kemudian pamitan dengan Ayah. Huhu, tangan saya sudah basah keringetan...! Deg-degan!

Sesampainya di RS, sekitar jam 04.00 WIB, saya menuju IGD dan cek tensi, so far tensi selalu bagus, antara sekitaran 110/70. Setelah dicek, saya dipindahkan ke ruang tindakan untuk di CTG. Dengan CTG, kita bisa tahu interval kontraksi, gerakan bayi dan denyut jantung bayi. Dalam kurun 20 menit, kontraksinya stabil 5-10 menit sekali, gerakan dan denyut jangtungnya pun bagus. Sementara itu, Billah mengurus administrasi dll.

Setelah CTG selesai, bidan yang berjaga pagi itu, mengecek kembali pembukaan, ternyata masih pembukaan dua. Lalu saya di "bersihkan" oleh bidan. Dimulai dari cukur daerah kemaluan dan mengeluarkan kotoran dari anus. Lalu kami dipindahkan ke ruang observasi sambil menunggu perkembangan pembukaan.

Kamis, 4 Februari 2016; 11.00 WIB

Tujuh jam pun berlalu....
Kontraksi yang saya rasakan tidak ada perkembangan. Bu Bidan cek dalam dan tetap pada pembukaan dua. Setelah mendapatkan konfirmasi dari dr. Bambang, akhirnya diputuskan untuk diinduksi. Saya diinduksi menggunakan obat. Obat tersebut dimasukkan ke dalam vagina. Obatnya tablet biasa, namun dibagi menjadi dua. Obat pertama ditunggu selama 6 jam, apabila tidak ada perkembangan, sisa obat dimasukkan kembali ke dalam vagina. Sampai pada obat kedua, tingkat pembukaan hanya sampai di pembukaan 4.

Oiya, selama pembukaan 1-4, saya dan suami saving energy dengan makan dan tidur. Kalau suami lebih lack of sleep ketimbang saya sih. Karena tidurnya di kursi.

Jum'at, 5 Februari 2016; 01.00 WIB

Akhirnya saya diinduksi kembali menggunakan infusan. Dan tidak lama kemudian ketuban saya pecah. Cukup banyak. Karena ketuban sudah pecah, maka saya diberi antibiotik untuk memberikan perlindungan bagi bayi.

Masuk pada pembukaan 5, mulesnya sudah mulai konstan dan kontraksinya sudah semakin cepat.
Di RS. BMC, apabila sudah masuk pembukaan 5, maka disarankan untuk "rocking", yaitu menggoyang-goyangkan pinggul selagi kontraksi. Saya dan suami dipindahkan ke ruang tindakan. Saya melakukan rocking pada setiap kontraksi sambil memeluk suami.

Dan benar! Pembukaan jadi semakin cepat.

Jum'at, 5 Februari 2016; 07.00 WIB

Saya memasuki pembukaan 8, dan lagi! Saya disuruh rocking oleh bidan-bidan. Dikarenakan perut gantung saya, bayi agak sulit menuju pintu terakhir. Jadi kalau kata bu bidan, ada tanda-tanda dimana si ibu boleh mengejan. Diantaranya adalah sudah ada tonjolan di perinium dan kepala bayi sudah berada di pintu terkhir (kata bu bidan ada tiga pintu yang harus dilewati oleh bayi). Nah, bayi saya nyangkut di pintu terakhir. Maka dari itu saya disarankan rocking. Setelah rocking, saya rebahan lagi sambil meraung-raung. Ya, meraung-raung. Rauangannya apa: "Bu Bidan mau ngeden!"

Asli, memasuki pembukaan 8, rasanya udah pengen ngeden aja. Curi-curi saya ngeden (padahal ngga boleh karena akan bikin trauma bagi si miss v).

Apa yang dilakukan suami? Dia mengabari keluarga bahwa saya sudah memasuki pembukaan 8. Kemudian menyemangati saya. Dia mempraktekan instruksi bidan: "Tarik, tiup, tarik, tiup!" Ehm, ngeliat mukanya sih beneran ngasih semangat, tapi I've known him for 8 years! Keliatan banget pengen ngetawain istrinya yang lagi teriak-teriak nahan kontraksi. Lalu saya menginstruksikan suami untuk kontak dr. Bambang untuk segera datang. Maklum lagi senewen, pokoknya dokter harus dateng saat itu juga. Padahal aslinya sih masih lama sampe lahiran... 

Tidak lama kemudian, dr. Bambang pun datang, dengan tenangnya beliau memeriksa saya DAN pasien di sebelah yang juga mau melahirkan anak ke-2 atau ke-3, intinya bukan anak ke-1. Saya sampe ngga sadar kalau di sebelah ada pasien yang mau lahiran juga. Kenapa? Soalnya ybs cuma: "Aw, aduh, aw, aduh..." Kaya mau pup aja gitu...

Anyway, setelah dr. Bambang cek, beliau menyarankan untuk menunggu sekitar setengah jam, sontak saya langsung menarik lengan dr. Bambang dan bilang "Ngga mau dok, mau ngeden sekarang aja!" Pokoknya hari itu adalah hari bawel sedunia. Semuanya saya teriakin...

dr. Bambang ke ruang sebelah dan kurang dari 15 menit, bayi tetangga sebelah lahir! Makinlah saya drop. Kok bayi saya ngga lahir-lahir.

Jum'at, 5 Februari 2016; 09.30 WIB

Kali ini semua bidan dan dr. Bambang fokus menangani saya. Saya sudah memasuki pembukaan 10, namun si bayi stuck di pintu terakhir. Akhirnya diputuskan untuk di vakum dengan "sedotan" paling rendah serta dibantu dorong oleh bidan. Ketika kepala bayi sudah keluar di pintu terakhir, AKHIRNYA saya MENGEJAN sebanyak 2x.

Jum'at, 5 Februari 2016; 09.47 WIB

Alhamdulillah, lahirlah putra pertama kami, Giomar Adiasta Aslah pada 05 Februari 2016, pukul 09.47 WIB dengan berat: 3160 gr dan panjang: 51 cm.

Nama Giomar Adiasta merupakan nama pilihan saya dan Aslah merupakan pilihan suami. Makna dari nama tersebut:

Giomar: Terkenal
Adiasta: Pemimpin/Pemerhati
Aslah: Sebenarnya singkatan dari nama kami, Tasya & Billah, namun setelah dicek, ternyata ada artinya yaitu Yang Lebih Baik.

InsyaAllah Giomar Adiasta Aslah akan menjadi seorang pemimpin/pemerhati yang baik dan dikenali banyak orang. Amin Allahuma Amin...

Nah! Kalau ada yang nanya sakit ngga pas dijaitnya? Saya yakinkan, ngga sakit sama sekali!

Mengingat kembali proses persalinan yang memakan waktu sekitar 30 jam ini benar-benar membuat haru. Perut ngga karuan rasanya, hidung mampet karena flu, kantong mata yang super berkantong, ngantuk dan lapar, tapi semuanya terbayarkan ketika Giomar lahir dan ditaro di atas dada... Alhamdulillah. Alhamdulillah. Salah satu target dalam hidup selain bisa nyetir mobil dan nindik telinga, achieved, yaitu lahiran secara normal.

Terima kasih untuk semua yang selama 30 jam memberikan support dan doa untuk saya, Billah dan Giomar.

Saturday, January 2, 2016

"Kalau kaya gini, ada yang polos ngga, Mbak?!"

Sebelum tujuh bulanan, saya pribadi sudah ancang-ancang untuk membeli kebutuhan Kakak dan saya pribadi paska lahiran. Anehnya, setelah tujuh bulanan, saya malah mengulur-ulur waktu untuk membeli ini itu. Mungkin karena cuaca juga kali ya, ujaaaan terus. Jadi saya males. Sampai pada akhirnya saya dan suami mampir ke toko bayi "Tiara", Bogor. Toko Tiara ini merupakan top list rekomendasi orang-orang Bogor yang hendak ngeborong perkakas bayi/ibu. Mengapa? Murah! Waktu itu kami kesananya Minggu siang. Fix, kami salah jadwal. Keadaan toko saat itu rame banget dan tokonya tidak terlalu besar. Saran saja, lebih baik kalau mau kesana, mending weekdays dan jamnya pagi sekali atau sekalian menjelang malam. Jadi toko tidak terlalu ramai.

Hari itu, kami tidak berlama-lama di sana, hanya membeli atasan tangan pendek, atasan tanpa lengan, celana panjang, celana pendek dan topi dengan ukuran new born, S/M.

Berdasarkan cerita teman-teman, size new born tidak terlalu lama terpakai, sehingga saya mix antara size new born dengan size S/M. Selain itu, baju Kakak motifnya harus polos! Harus! Kalau bisa warnanya monochrome malahan. Jadi, pas masuk toko, pertanyaannya: "Kalau kaya gini, ada yang polos ngga, Mbak?!"
Maklum, saya dan suami cinta mati sama warna monochrome! 

Setelah belanja sekali, ternyata bener ya, langsung ketagihan dan baru ngerasa banyak yang belum lengkap. Akhirnya saya membuka catatan dan mencheck list kembali perlengkapan Kakak dan saya. Oya, sebelum saya resign, Alhamdulillah orang kantor banyak yang kasih hadiah untuk Kakak. Jadi ada beberapa barang yang ngga perlu dibeli lagi.

Saya iya-in aja apa kata orang-orang, belinya jangan banyak-banyak. Namun, saya pun melihat keadaan cuaca, dimana prediksi lahir Kakak, tepat pada puncaknya musim hujan. Jadi, saya beli agak banyak untuk atasan dan popok kain. Sampai saat ini sih saya bertekad mau kasih popok kain. Well, we'll see!

Selain ke toko "Tiara", saya pun membeli beberapa barang di "Baby House", tempatnya nyaman, meskipun tetap saja ramai. Untuk harga, saya tidak terlalu memperhatikan, namun kalaupun ada perbedaan, paling hanya beberapa perak. Intinya enak kalo mau agak lama-lama di toko ini.

Barang terakhir yang sampai saat ini belum saya beli adalah alat pumping electric. Kebetulan saya dapat lungsuran yang manual. Saya dan suami mau lihat dulu seberapa butuh pumping electric karena status saya yang tidak bekerja, jadi saya ingin menyusui langsung. Meskipun katanya akan ada masa dimana saya harus pumping.

Sekarang saya dan Kakak sudah memasuki 35 minggu! Bismillah....

Can't wait to see you Kak!

Wednesday, December 23, 2015

Pengajian Tujuh Bulanan & Acara Tingkeban

Alhamdulillah! Akhirnya memasuki trimester akhir. Tepat memasuki minggu ke-28, kami menggelar pengajian tujuh bulanan dan acara tingkeban. Sempat berencana mengadakan pengajian ini di rumah orangtua saya, namun melihat tingkat keribetannya, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mengadakan pengajian tujuh bulanan dan tingkeban ini di rumah mertua (tempat yang saya tinggali semenjak menikah hingga saat ini).

Kenapa tepat pada minggu ke-28?
Nah, ini dia. Yang saya lihat di beberapa blog/Instagram orang, biasanya acara pengajian tujuh bulanan dan tingkeban/mitoni, dilaksanakan pada minggu ke-30an. Intinya setelah minggu ke-28. Ada tiga alasan:
1. Jadwal orang sanggarnya penuuuh! Jadi hanya available pada 15 November 2015;
2. Jadwal Mama dan Ayah mertua saya juga penuh setelah tanggal 15 November 2015 dan
3. Kalau melebihi tanggal 15, saya ngga enak sama kakak saya yang akan melaksanakan prosesi lamaran pada pertengahan Desember, 2015. Karena momen kumpul keluarganya terlalu berdekatan.

Jadi, diputuskan lah acara pengajian tujuh bulanan dan tingkeban ini dilaksanan pada Minggu, 15 November 2015.

Dua minggu sebelum acara, suami meminta saya untuk membuat undangan sederhana untuk dikirimkan ke keluarga dan sahabat.

Ibu-ibu pengajian yang kami undang adalah Ibu-ibu pengajian ketika saya pengajian menjelang pernikahan. Pimpinannya adalah Ibu Ummah. Beliau baaaaikkkk sekali. Kami tidak mengundang tetangga karena kami pikir ini acara keluarga dan sahabat terdekat saja.

Untuk prosesi Tingkeban, dekorasi dan make-up dll, saya percayakan kepada Sanggar Elyz Griya Pengantin. Ini kedua kalinya kami menggunakan jasa Sanggar Elyz. Sudah terlanjur jatuh cinta oleh profesionalisme tim Elyz Griya Pengantin! 

Yang jadi masalah adalah baju! Asli deh, saya ngga doyan pake gamis. Sewaktu acara pengajian menjelang pernikahan saja, saya ngejait dengan model baju kurung dan bawahan batik. Pinjem gamis temen, tapi ngerasa ngga cocok. Alhasil saya browsing di Instagram dan nemu gamis klasik (bukan gamis hedon jaman sekarang) dan harganya OK! Case closed untuk gamis. Sekarang tinggal keblinger cari kebaya setelah prosesi siraman. Kebaya satu-satunya yang muat itu akan dipakai pas siraman. Nah setelah itu, gatau mau pake kebaya apa! Ngga ada yang muat! Lalu Mama ngajak ke Djene, tempat beli kebaya favorit! Meskipun agak mahal tapi awet dan worth it to buy. Akhirnya ketemu kebaya warna kuning gonjreng dan amazingly size masih S aja lho!

Untuk makanan, kami menggunakan catering @KedaiJantan dan dapet bonus Teteh Ika yang bantuin. Alhamdulillah....

Pada hari H, jam 9 acara pengajian pun dimulai. Tidak terlalu banyak keluarga yang datang. Saya nangis bombaaaaay ketika harus membacakan doa kepada Kakak. Sempat sekitar 3 menit tidak ada suara dari mulut saya karena menahan tangis. Cukup terharu karena mengingat selama hampir 7 bulan ini, suka dan duka yang rasakan. Meskipun saya tau bahwa experience kehamilan pertama ini, masih banyak di luar sana Ibu-ibu yang lebih berat dalam proses kehamilan.

Billah dan Mama pun membacakan doa untuk Kakak. Lancaaarrr jaya ngga pake nangis! Kemudian saya dan suami berkeliling minta doa restu kepada yang hadir diiringi shalawat. Saya nangissss lagi! Duh, cengeng yah!? Maafkan Ibu, Kak!

Setelah selesai, saya dan suami masuk ke kamar untuk ganti baju. Suami pakai beskap dan saya pakai kain untuk siraman. Lalu ada prosesi sungkeman kemudian siraman deh. Acaranya lucu! Ada momen dimana saya dililit kain sebanyak 7 kali dan setiap pergantian kain, dikasih belut di perut saya. Ga kuat liat belutnya, akhirnya sekali aja yang pake belut-belutan itu. Terus kain-kainnya di lempar kepada yang hadir. Selain itu, Billah pun harus memilih dua kelapa yang sudah bergambar. Dia mengambil yang kelapa dengan gambar anak laki-laki. Untuk membuktikannya, kalau ujung kelapa dibelah, harusnya keluar cipratan air. Agak sulit ya ternyata! Tapi keluar kok cipratan airnya. InsyaAllah laki-laki yaaaa, Kak! 

Nah, prosesi terakhir adalah prosesi jualan rujak dan dawet! Billah jualan dawet dan saya jualan rujak serut. Kalau Ibu-ibu pasti maunya rujak! Tapi dawet lebih cepat habissss!! Setelah itu acara ramah tamah dan makan siang.

Alhamdulillah acara berjalan lancar dan InsyaAllah membawa keberkahan untuk saya, suami dan bayi di dalam kandungan saya. Amin YRA.....!




"Selamat Hari Ibu" untuk semua perempuan di Indonesia!

Well, tahun ini merupakan tahun di mana saya resmi memiliki dua Ibu, yaitu Mama Lies Marcoes yang merupakan Ibu kandung saya dan Alm. Ibu Ida Yuhana yang merupakan Ibu mertua saya.

Kalau mendengar cerita Ayah mertua, Mama dan Ibu sebenarnya sudah saling mengenal satu sama lain karena mereka pernah terlibat dalam satu forum diskusi. 

Saya tidak terlalu mengenal Ibu. Tapi mendengar cerita dari Ayah/Suami/Tante/Bibi, beliau orangnya baik hati, pintar, dan tegas. Yang paling sering saya dengar adalah ketika Ayah/Suami menyebutkan tempat makan atau tempat perbelanjaan yang suka dikunjungi Ibu.

"Dulu sama Ibu suka kesini...."

Kok kayaknya Ibu suka jajan yaaaa. Hehe... Meskipun beliau sudah tiada, dan saya tidak pernah bertemu langsung, namun saya tetap sayang kepada beliau dan mengharapkan beliau masih di sisi kami semua. 

Kebayang kalau masih ada Ibu, mungkin ngurus lamaran, kawinan hingga perlengkapan melahirkan, akan didampingi oleh Ibu. Tapi di lain sisi, saya dan suami harus mandiri untuk melakukan semuanya sendiri.

Sudah lama rasanya saya tidak mengunjungi makam beliau. Maaf ya Ibu! Kalau kata orang-orang, Ibu hamil lagi "wangi", jadi ngga boleh ke makam. Tapi doa akan selalu mengiringi Ibu.... 

Untuk Mama Lies Marcoes yang sebentar lagi jadi Enin gaul seduniaaaa! Mama selalu memberikan kebahagiaan kepada banyak orang dan tidak henti-hentinya belajar serta membanggakan Ayah, Abang, Noni, Billah dan Bois. Pastinya Mbah Aung dan Mbah Putri juga bangga setengah mati dengan beliau..!!

Kadang terlintas di benak saya, apakah saya bisa melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya nanti seperti yang dilakukan oleh beliau sekarang. Tapi satu hal yang saya lihat dari beliau kepada anak-anaknya adalah keterbukaan. Dari hal sesensitif mungkin, pasti Mama atau kami cerita. InsyaAllah saya pasti bisa!

InsyaAllah Ibu dilapangkan kuburnya, ditempatkan di tempat terindah oleh Allah SWT dan bisa tersenyum bangga melihat kami, anak-anaknya menjadi pribadi yang beliau harapkan.

InsyaAllah Mama diberi kesehatan, kebahagiaan, ketenangan dan kesabaran di masa-masa beliau menjadi seorang Enin bersama kami, anak-anaknya, cucu dan Ayah.

I love you both!
Happy Mother's Day to Mama & Ibu!